Menelusuri kisah perjuangan, penyatuan nilai luhur, dan asal-usul warisan peradaban desa.
Setiap wilayah menyimpan memori kolektif masa lalu yang berharga. Begitu pula dengan Desa Klatakan, sebuah desa di Kabupaten Situbondo yang terbentuk dari integrasi kebudayaan, keberanian kepemimpinan tradisi, dan kesepakatan historis antar wilayah.
Pada awalnya, Desa Klatakan tidak berdiri sendiri melainkan merupakan hasil penggabungan (fusi) dari tiga pemukiman/desa lama yang mandiri, yaitu Desa Jati, Desa Semekan, dan Desa Pecaron.
Pada masa transisi pembentukan struktur tersebut, tantangan keamanan dan administrasi menuntut sosok pimpinan yang tangguh. Meskipun saat itu sistem literasi baca-tulis belum merata, aspek keberanian dan kewibawaan mutlak menjadi tolok ukur utama. Maka, terpilihlah kepala desa pertama yaitu Bapak Essin yang dianugerahi gelar kesepuhan Mintorejo.
Dengan berbekal kharisma kepemimpinannya, beliau mengukuhkan nomenklatur resmi desa baru ini dengan nama Klatakan. Pilihan nama ini berakar kuat dari refleksi kondisi geografis dan historis masa lalu kawasan tersebut.
Nama Klatakan disinyalir berasal dari istilah dialek bahasa Madura "jheletak", yang memiliki arti harfiah sebagai tempat di mana banyak ditemukannya tulang belulang manusia yang berserakan di masa lampau.